Mentari mulai tergantung di timur, buat aku terdesak tersungkur.
Lemah jiwa tuk terbang lagi walau ingin anganku memulai di pagi.
Ku tantang mentari yang bersolek angkuh dan rebahkan lemah dalam satu paruh
agar ku bisa gapai sayap yang siap terengkuh.
Merajut serpihan asa, hiasi pelangi hanya dengan warnaku saja serta tidak terpikirkan oleh ku untuk meninggalkan secelah saja di langit, dan itu semua ku ingin tanpamu.
Di tepi lembah ku berdiri, perlahan jiwaku terusik kabut.
Wajah yang tak asing memandangiku.
Ingatkan pada satu purnama saat ku ikuti lekuk wajah tawa manja yang di candai.
Tapi ku berpaling, mata hatiku terlalu silau untuk menatap dan mencintai.
Karena jiwa terlanjur ku tutupi benci dan angkuh.
Ku hanya ingin selimuti dia hingga terengkuh.
Jika dia rasa perih, ku takkan.
Biar daun saat musim gugur jatuh dan nanti musim semi kan merangkainya kembali.


0 comments:
Post a Comment