Spring in Aussie

12.03.2009 | |
Baca selengkapnya...

Satu per satu daun-daun jatuh. Musim kemarau di Malang membuatku selalu merasa kehausan dan dingin. Soalnya musim kemarau di Malang kering dan dingin. Aku kehausan mungkin selalu menghirup debu-debu yang berterbangan lebih mudah sekarang. Daun-daun kering yang jatuh tadi akhirnya terinjak oleh kakiku saat masuk ke ruang kelas, padahal aku sudah berjalan dengan santai, g ngaruh sih. Aku selalu memilih tempat duduk acak, tapi kebanyakan di barisan tengah. Menurutku deretan itu yang teraman karena terlindung dari pandangan dosen yang sok killer dan dapat memandangi XXXX, yang biasanya duduk di deretan depan.

Pelajaran reproduksi ikan kali ini sangat membosankan. Aku tidak dapat dengan jelas mengingat fungsi atau kelenjar dari hormon-hormon reproduksi berasal. Bagiku semua sama saja dalam bahasa ilmiahnya. Hanya ditambah huruf ‘’H’’ dan semuanya beres, maksudku seperti GtH dan GsH atau dengan FsH juga LtH. Bagiku semua sama, kumpulan protein yang kompleks hingga bisa merumitkan pikiranku untuk memahaminya.

Belum lagi kuliah tambahan biologi kimia di sore ini. Sudah sungguh berat, cape, dan ngantuk di tambah menempatkan atom C di rumus ikatan yang seperti jalan buntu yang melingkar. Dan aku selalu salah walau hanya untuk menambahkan satu strip tanda ikatannya. Tapi aku merasa tidak sendiri sore ini, karena ada XXXX.

Aku lebih suka untuk bagian praktikum “kunjung-mengunjungi”. Biasanya praktikum ini dilakukan pada akhir bulan. Tugas kita hanya datang, duduk rapi, dan pulang lalu membuat laporan. Kita sering berkunjung ke balai-balai dinas perikanan. Dan bagian yang menyenangkan bagiku adalah ketika di dalam bis ketika sepanjang perjalanan dan berfoto-foto di lapangannya. Bagian lainnya adalah aku senang berpura-pura tertarik dan memberikan pertanyaan berbobot seberat mungkin kepada pihak balai yang telah memberikan penjelasan panjang lebar. Sebenarnya alasanku untuk berpura-pura tertarik pada uraian panjang dan membosankan tadi adalah XXXX. Dia terlihat antusias, maka aku pun harus, maka jadilah aku yang berpura-pura antusias.

Ya, dia adalah semua alasan mengapa aku duduk di tengah, mengangkat tangan wat bertanya, menjawab pertanyaan walau hanya mendekati benar, dan membaguskan tulisan tangan ku di lembar laporan praktikumku, jaga-jaga siapa tahu XXXX ingin meminjamnya.

Aku ingin terlihat kalau aku adalah saingannya. Walau aku payah dalam hal ingatan, aku terus mencoba hingga hafal tiap kata-kata di buku teks dan sedikit lupa saat harus menuliskannya di lembar jawaban karena aku mengantuk. Tapi tiap hasil nilai ku jauh di bawah dia. Bagiku, aku sangat menikmati prosesnya, bukan hasilnya. Bagiku hafalan-hafalan tidak terlalu penting karena dapat di cari kembali di dalam buku teks kalau kita lupa. Yang terpenting adalah kita dapat memahami konsepnya.

Lepas dari itu semua, kami adalah sahabat dekat. Sampai dekatnya ada gosip yang santer terdengar kalau kami sebenarnya sudah jadian. Padahal tidak. Yang ada kami hanya saling mengisi hari-hari di kota asing bagi kami ini sebagai sahabat. Aku sering main ke kosannya walau hanya ingin mengecek apa dia baik-baik saja karena di paginya aku melihat dia pucat. Kadang mengobrol apa saja sampai malam, hingga satpam mesti mengingatkan ku agar cabut dari kosannya. Kami juga sering “missed call” untuk minta dibangunkan sahur bagi siapa yang lebih dahulu bangun di jam tiga pagi.

Mata kuliah reproduksi ikan ini adalah yang terakhir untuk kita. Minggu depan akan ada ujian. Dan seperti biasa, anak-anak sibuk mencari bahan ujian atau contoh soal yang pernah dikeluarkan tahun lalu, termasuk aku. Sumber tempat aku mencari catatan adalah kosan XXXX. Dia orangnya rajin mencatat, hingga ucapan candaan dari dosen pun di cantumkan, itu hanya bercanda tentunya. Dan yang penting sekali, tulisannya sangat rapi.

Waktu berjalan lambat, tapi sampai juga kami di ujian yang benar-benar terakhir bagi kami karena semester depan habislah mata kuliah yang harus diambil, kecuali tentunya tidak bagi anak-anak yang mengulang karena dapat E atau D. Hawa panas menemani kami mengerjakan soal. Akhirnya ujianpun berakhir. Seperti biasa, aku keluar setelah dia keluar. Setelah kami mengumpulkan lembar jawaban dan keluar, dia bertanya “Gimana ujian kamu?” “Sangat mengesankan. Maksud aku sangat mengesankan hingga aku mengesankan jika aku harus menjawabnya dengan benar…ha..ha..” aku menjawab sekenanya saja. Semua soal adalah essay.

Di “penghujung” kami ngampus, kami harus mengambil skripsi. Kami terlalu sibuk untuk mengobrol dan juga sering stress. Tapi kami selalu saling menyemangati dan mengingatkan untuk semangat kembali kalau sudah “down”. Kami berharap dapat melewati masa-masa sulit ini dengan baik.

Daun-daun bermekaran, dan sangat gampang untuk mencari yang mekar dengan sempurnanya di musim semi ini. Kali ini tidak ada daun-daun kering yang aku injak, yang ada hanya tanah lembab yang baru disiram oleh dinas pertamanan. Telepon selular ku berdering saat melewati belokan terakhir di salah satu taman publik negeri kangguru, deringan pertama di musim ini. Aku memencet tombol dengan simbol telepon berwarna biru dan siap untuk menerima nomor dengan kode negara matahari terbit.

Halo Za, sedang apa kamu? Baek aja kah? Proposalmu diterima belum?”

Sapaannya mengingatkanku pada seseorang yang selalu ku simpan rasa cinta dan tak pernah ku mengungkapkannya. Mungkin kini saatnya, batinku berasa.

Hye, XXXX. Assalmkum. Aku baek. Kamu? Aku sedang mau mengambil proposalku yang sudah selesai di jilid. Akhirnya proposalku sudah ditandatangani dosenku, jadi tinggal jalan. Alhmdllh..”

Oya XXXX, aku rindu kamu, maksudku bukan rindu biasa. Rindu dari seseorang yang menyimpan cinta mulai saat melihatmu menimbang berat kodok di laboratorium biologi…………” sambungku.

Kresek….kresek….kresek….

Aku bae Za. Za maaf. Jaringanku sibuk. Lagi rusak…halloo..hallo…Za” XXXX menyela dan mengacak-acak selembar kertas plastik di meja kantornya dengan tangan tangan kirinya sambil didekatkannya ke telepon selularnya

Maaf Za, aku g bisa lama-lama, jaringanku lagi sedikit rusak,cao…”

Tut….tut….tut….





2 comments:

Anonymous said...

hmmm....cerita yang menyentuh...tentang seseorang yang suka pada sahabatnya sendiri namun tak bisa memiliki....cuma pas terakhir gantung...n belum jelas kenapa si cwe bersikap begitu...mungkin ntar ada lanjutannya...

DISCOGRAPHY said...

ho.ho.ho....tNx 4 ur critics....oc, perlu brbenah lgi nih kya nya.....

Post a Comment