Aku melangkahkan kaki di antara rerumputan ilalang. Sinar matahari sore merayapi setiap lekukan kulitku. Sambil sesekali mencabut ilalang dan menggigitnya, aku terus berjalan ke tepi sungai yang kini tidak jauh lagi aku akan sampai. Aku berhenti lalu duduk dengan memanjangkan kedua kakiku ke depan dan kedua tanganku ke belakang sedikit tertekuk untuk menopang badanku di tepi sungai. Rambut ku sedikit berantakan karena angin.
Rumahku dan semua tetanggaku ada di sekitar 170 meter di belakangku dengan bentuk yang sederhana dan hampir seragam, tidak lupa dengan cerobong asap dari batu bata tanpa di cat. Kadang aku juga sering memanjat ke cerobong asap dengan tangga kayu dan duduk-duduk di tepi cerobong. Pernah ibuku membersihkan abu di dasarnya lalu wajahku menjadi hitam karena wajahku tepat di atas cerobong dan menghadap ke dasarnya. Saat itu aku ingin mengukur tinggi cerobong dengan menjatuhkan biji salak dan melakukan perhitungan stopwatch yang berjalan. Cara ini aku coba setelah aku membaca rumus kecepatan di buku SMP ku saat tadi pagi ku membereskan buku-buku lamaku yang sudah ber ‘’kalung’’ jaring laba-laba.
Tiap jam lima sore, aku selalu naik ke cerobong asap atau ke tempat saat ini aku duduk. Aku suka untuk menikmati cahaya matahari yang tenggelam, seperti sebuah ritual yang wajib untukku sebelum aku mandi sore dan menyantap kudapan malamku. Ku selalu tertarik pada cahayanya yang terdispersikan pada air sungai yang jernih. Senang juga aku mendengarkan percikan air yang terbentur batu-batu kecil dan akan mendapat tambahan romantis bila ada XXXX di sini temani aku.
XXXX sering menemani aku hanya untuk sekedar duduk dengan sikap tubuh yang sama dengan aku, tentunya sedikit di paksakan karena dia perempuan. Kadang juga dia temani saat aku sedang membaca buku yang setebal kamus, sebuah novel. Aku dan dia juga terbiasa mengobrol tentang apa saja seperti anak kucing yang mati terlindas motor tadi siang lalu berdebat apakah sebenarnya kucing umumnya mempunyai sembilan nyawa sungguhan dari kecil atau nyawanya bertambah sejalan dengan bertambah umurnya dan akan tetap pada nyawa yang kesembilan hingga mati, atau sembilan nyawa adalah jumlah yang dapat terhitung oleh orang-orang, padahal nyawanya lebih dari sembilan, atau bahkan sebenarnya hanya punya satu nyawa. Atau juga pernah tentang perhitungan rancob yang selalu ku terhenti saat masuk ke pembacaan notasi atau sidik ragam karena sungguh aku tidak tahu rumus apa yang harus digunakan atau iseng juga menebak awan yang terbentuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku biasanya dapat melihat pantulan cahaya matahari langsung dari matanya yang berpupil hitam kecokelatan saat dia marah karena pendapatnya selalu ku sudutkan.
Ha..ha..ha..membuat dia kesal adalah hal yang ku sukai, maksudku tidak benar-benar mengesalkan dia, hanya untuk bercanda.
Tapi hari ini sama sejak tiga minggu lalu tepatnya. Walau rumah kami hanya selisih satu blok, aku tidak mendapati dirinya di sini menghampiri, menyusulku, atau menjemputku, karena rumahnya lebih jauh dari aku jika harus ke sungai ini. Sudah tiga minggu juga aku tidak bertegur sapa dengan XXXX. Hal yang berat dengan pertimbangan kami sudah lama berteman dan satu jurusan di kampus kota kami dan aku pun juga menyimpan rasa cinta.
Ya, akhir-akhir ini kami ada masalah. Mungkin sebagai ‘’pemantiknya” adalah tugas akhir kami berdua yang membuat kami lelah dan ketika harus bertemu yang ada hanya bentakan halus dan kecil tapi dapat menyinggung perasaan kami berdua. Dan hal ini makin tidak mudah bagiku saat besoknya dia tiba-tiba mengirimkan pesan singkat ke telepon selularku yang intinya dia menganggap bahwa dirinya bukan yang terbaik untuk aku dan hidupku serta menyemangati aku agar tetap optimis bahwa suatu hari aku akan mendapatkan yang lebih baik untukku.
Ya, kami memang tidak pernah jadian. Akupun malu hanya untuk berbicara, hanya tersirat dari perbuatan-perbuatanku yang selalu ‘’menomorsatukan” dia dan mengkhususkan dia. Aku selalu memilih diam dan lebih menyiratkan dengan perbuatan-perbuatanku seperti itu, karena saat ini itulah hal yang aman. Aku bahkan tidak tahu saat itu dia juga mempunyai rasa yang sama atau tidak denganku mengenai cinta. Memang ada beberapa kali dia memberikan aku ‘’kasus-kasus harapan” sehingga aku lebih memperbesar harapanku. Dan hal itu makin membuatku sulit untuk melewati hari-hariku beberapa bulan sebelum aku bisa “menyanyikan” lagu yang baru di hidupku sekarang ini.
Ya, aku sudah terbiasa berjalan tanpa bayang-bayang dia serta mendapatkan bahwa sifat maupun prinsip kami sangat jauh bertolak belakang. Akhirnya kami pun dapat berteman seperti biasa tanpa aku yang terbebani saat harus menyembunyikan rasa cinta seperti dulu.
YYYY, gadis yang baru aku kenal, membawakan pesanan lime squash yang aku pesan dan roti bakar pesanannya. Kami baru saja pulang dari pertandingan renang di kampus YYYY. Dia sering memperlihatkan ketertarikannya pada ku. Tapi kali ini aku belajar untuk tidak mau salah melangkah dengan menaruh harapan yang terlalu cepat untuk rasa kali ini. Dan aku benar-benar jadian dengan YYYY pada empat bulan kemudian. aku pun sedang mendapati dia berjalan ke arahku sambil memberikan senyum indah terbaiknya saat ku melempar topi wisuda ku ke sembarang arah. Memang benar kita sering kali bertemu orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang benar-benar tepat untuk kita.
Untuk yang pernah ada di hidupku, XXXX, makasih untuk semuanya.
Dan untuk YYYY, aku harap kamu benar-benar ada dan aku yakin itu.


1 comments:
ini lanjutan dari kisah selanjutnya kan ???? namanya xxxx , kenapa endingnya pesimis dengan xxxx yah dan berfikir yyyy, kudunya mesti dicari penjelasan donk....ada apa dengan xxxx ????
Post a Comment