Bayang mentari memanjang,
sajak lantunan senja dari burung pun begitu sendu.
Daun-daun yang kering baru saja jatuh, membuat riak di telaga.
Senja merah merekah, buat aku menguap di turunan lembah.
Memaksa aku menyimpan cinta ini di dalam kotak pasir,
siapa tahu ku butuh suatu saat lagi denganmu.
Ribuan bintang ditata malaikat malam.
Puluhan orang mendayung perahu di atas sungai di venesia,
Tapi ku ingin cerita tentang buku-buku aku yang hilang dipinjam,
Lalu hempaskan kesalmu dari tugas asistensi
Dan dekap aku lebih erat karena bintang malam kini enggan muncul,
Hanya mengintip di kabut awan.
Semua cepat berlalu, seperti angin yang mengaliri lekuk daun
dan turun ke lembah.
Hanya meninggalkan getar, buat ku terpaku.
Akhirnya kita akan menemukannya, bintang yang kita tunjuk,
lalu semua gelisah dan gersang hilang.
Seperti berlayar di antara kabut,
kita tidak pernah tahu dimana hati kita akan berlabuh,
menunjuk, dan takkan menyesalinya.
Setiap detik yang dilalui, ku yakin kamu matahariku, membawa cinta.
Tapi detik-detik itupun berakhir. Matahariku hanya mampir.
Akhirnya ku dapat menuliskan ”cinta pertama” di kabut malam, sebelum ku menyadarinya. Dan itu fajar.


0 comments:
Post a Comment